isx-apcKetika teknologi informasi (TI) didaulat sebagai business enabler; dan data center –sebagai pusat infrastruktur TI—ditujukan sebagai the new factory in today’s business, bagaimana nasib perusahaan berskala kecil dan menengah yang pasti juga berharap bisnisnya tumbuh dengan dukungan teknologi?

 

Padahal sektor usaha kecil menengah (UKM) inilah yang menjadi salah satu jangkar penyelamat perekonomian Indonesia saat krisis moneter awal tahun 2000-an lalu.

 

Bahkan kini peran UKM dinilai makin strategis. Pasalnya, selain memainkan peran krusial sebagai stimulus dinamika ekonomi, sektor UKM pun berkontribusi sebesar 97% terhadap penyerapan tenaga kerja di tahun 2013.

 

Belum lagi jumlah usaha kecil menengah Indonesia yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Menurut data Kementerian Koperasi dan UKM RI, dalam kurun waktu satu tahun (2011-2012) jumlah UKM meningkat sebesar 4,94%,  dari sekitar 646,5 ribu menjadi 678,4 ribu unit. Angka tersebut akan terdengar lebih dahsya bila dikombinasikan dengan jumlah bisnis mikro yang mencapai lebih dari 55 juta unit.

 

Ketika bersinggungan dengan infrastruktur TI, sektor yang sering dijuluki tahan banting dan tidak “cengeng” ini kerapkali menghadapi kendala. Yang utama adalah biaya, tetapi di balik itu ada pula kendala lain. Misalnya keterbatasan staf TI dan ruang untuk menempatkan peralatan TI.

 

Salah satu vendor spesialis infrastruktur TI, Schneider Electric, juga mengidentifikasi kendala yang lebih spesifik di lingkungan TI UKM, yakni ketiadaan perencanaan kebutuhan dan kondisi operasional TI yang berada di bawah standar. Semua kendala itu berujung pada penggunaan biaya yang tidak efisien, dan ketidakmampuan UKM menghadapi tantangan dan perubahan bisnis dengan cepat.

 

Meskipun tenaga dan ruangnya terbatas, UKM juga membutuhkan infrastruktur teknologi yang andal dan efisien. Untuk itu, Schneider Electric memperkenalkan solusi infrastruktur yang tidak membutuhkan banyak ruang maupun penanganan: InfraStruxure.

 

“Dengan solusi InfraStruxure, pebisnis dapat mengaplikasikan teknologi TI yang diinginkan dengan cepat dan mudah agar mereka dapat berkonsentrasi pada bisnisnya,” jelas Michael Kurniawan (VP, Schneider Electric IT Business, Indonesia). Michael meyakinkan bahwa solusi ini akan mendukung bisnis UKM, bukannya malah membebani pebisnis dengan keruwetan karena ingin memanfaatkan teknologi.

 

Solusi InfraStruxure dapat dipasang di tempat-tempat dengan luas terbatas, seperti ruang server, ruang jaringan (network closet) atau ruang apapun (non-dedicated space). Dalam satu paket ready to install, solusi InfraStruxure ini sudah mencakupkan perangkat UPS, rak server, unit pendingin (cooling unit) dan Rack Power Distribution Unit (PDU).

 

Untuk menemukan desain dan konfigurasi yang sesuai kebutuhan UKM, Schneider membekali para channel partner-nya dengan design tool: Small IT Solution Designer. Dengan begitu, para mitra tersebut dapat membantu UKM menemukan infrastruktur yang mudah dipasang, sesuai kebutuhan bisnis-bahkan dengan mempertimbangkan pertumbuhan bisnis di masa depan—dan mudah dikelola.

Teknologi dalam bisnis memang sudah tak terelakkan, apa pun skala bisnisnya. Dukungan teknologi tidak saja membuat bisnis UKM makin tahan banting, tetapi juga menjadikannya ujung tombak ekonomi negeri ini. (adv)

Sumber : Info Komputer